Review #1 Girls In The Dark

on Sabtu, 11 Oktober 2014


Judul : Girls In The Dark
Nama Penulis : Akiyoshi Rikako
Penerbit : Haru
Tanggal Terbit : Mei 2014
Edisi : Cetakan Pertama
ISBN : 978-602-7742-31-4
Penerjemah : Andry Setiawan
Penyunting : Nona Aubree
Proofreader : Dini Novita Sari
Design Cover : Kana Otsuki
Ilustrator : @teguhra








Sinopsis :                                                                                                                                       
Apa yang ingin disampaikan oleh gadis itu ?

Gadis itu mati

Ketua Klub Sastra, Shiraishi Itsumi, mati.
Di tangannya ada setangkai bunga Lily.

Pembunuhan ? Bunuh diri ?
Tidak ada yang tahu.
Satu dari enam gadis anggota Klub Sastra digosipkan sebagai pembunuh gadis cantik berkarisma itu.

Seminggu sesudahnya, Klub Sastra mengadakan pertemuan. Mereka ingin mengenang mantan ketua mereka dengan sebuah cerita pendek. Namun ternyata, cerita pendek yang mereka buat adalah analisis masing-masing tentang siapa pembunuh yang sebenarnya. Keenam gadis itu bergantian membaca analisi mereka, tapi….

Kau pernah berpikir ingin membunuh orang ?

My Review :
SMA Katolik Putri Santa Maria memiliki sebuah Klub Sastra yang selalu melakukan pertemuan rutin di setiap akhir semester yaitu yami-nabe yang secara harafiah berarti “panci dalam kegelapan”. Semua peserta akan memasukkan bahan-bahan aneh yang mereka bawa ke dalam panci dan semua orang harus memakannya dalam kegelapan. Sambil menikmati yami-nabe, mereka akan mendengarkan anggota lain membaca cerita pendek yang telah mereka tulis. Biasanya tema yang diambil bebas. Namun kali ini berbeda. Tema yang diambil oleh Sumikawa Sayuri sebagai Ketua Klub Sastra yang baru dalam pertemuan ke-16 Klub Sastra Putri Santa Maria adalah kematian Ketua Klub sebelumnya, Shiraishi Itsumi.

Sayuri dan Itsumi adalah sahabat baik. Mereka adalah sosok yang bertolak belakang. Itsumi adalah gadis yang aktif dan tidak tahan untuk tidak membeli sesuatu dengan hitam atau putih. Sementara Sayuri seperti hidup dengan dilindungi oleh bayangan Itsumi. Tubuh Sayuri pun tidak terlalu sehat sejak lahir. Sejak Itsumi tiada, separuh tubuh Sayuri seperti direnggut.

Kematian Itsumi penuh dengan misteri. Tidak ada seorangpun yang diizinkan untuk menghadiri pemakamannya dan tidak ada seorangpun yang mau memberitahu apa yang sebenarnya terjadi. Ada gossip yang beredar bahwa salah seorang di antara anggota Klub Sastra adalah pembunuhnya.  Lalu kenapa jasad Itsumi terkapar di bawah pot ? Kemudian, kenapa Itsumi meninggal sambil menggenggam bunga lily ? Apakah itu semacam pesan kematian ? Tidak ada yang tahu, semuanya masih menjadi misteri. Maka dari itu Sumikawa Sayuri meminta anggota Klub Sastra yang lain menceritakan kejadian kematian Itsumi dari sudut pandang mereka masing-masing. Dan inilah cerita pendek yang ditulis oleh anggota Klub Sastra yang lain :
1.       Nitani Mirei
Anggota Klub Sastra yang berhasil sekolah di SMA Putri Santa Maria karena beasiswa. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang  membunuh Itsumi adalah perempuan dengan harum bunga lily, yang tak lain dan tak bukan adalah Koga Sonoko.
2.       Kominami Akane
Anggota Klub Sastra yang suka memasak dan bertanggung jawab menyediakan kudapan saat acara Klub berlangsung. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang membunuh Itsumi adalah Nitani Mirei.
3.       Diana Detcheva
Seorang siswi Internasional yang berasal dari Bulgaria. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang membunuh Itsumi adalah Takaoka Shiyo.
4.       Koga Sonoko
Teman sekelas Itsumi. Seorang siswi yang memiliki cita-cita ingin menjadi seorang dokter. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang membunuh Itsumi adalah Diana Detcheva.
5.       Takaoka Shiyo
Anggota Klub Sastra yang sudah menjadi seorang penulis professional. Dari sudut pandang cerita pendek yang ia buat, ia menuduh yang membunuh Itsumi adalah Kominami Akane.

Awal-awal membaca novel ini, saya merasa bingung. Kok kayak ngomong sendiri ya ? Mana tokoh lainnya ? Dan saya mulai menebak-nebak, “ini sebenarnya novel thriller, horror apa detektif ?” Namun setelah membaca bab salam pembuka dan penjelasan peraturan yami-nabe di bagian akhir, saya mulai mengerti.

Menurut saya novel ini mencakup genre thriller, horror dan detektif. Novel ini bercerita tentang analisis kematian seorang Ketua Klub Sastra Shiraishi Itsumi dari sudut pandang masing-masing anggotanya melalui cerita pendek. Idenya benar-benar masih fresh. Sebelumnya saya belum menemukan novel dengan cara penulisan seperti Girls In the Dark yang mampu membuat kepala saya pusing^^. Saya juga tidak menyangka isi cerita akan disuguhkan dengan cerita pendek yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Saat masih membaca bab salam pembuka dan penjelasan peraturan yami-nabe saya menebak kalau pembunuhnya adalah Sumikawa Sayuri. Kenapa saya memilih Sumikawa Sayuri ? Ya, karena ia adalah wakil ketua Klub Sastra. Menurut saya, kalau seorang wakil mau menjadi ketua, mau tak mau ia harus menyingkirkan ketua klub yang lama (>_<).

Namun, teori saya langsung dipatahkan ketika saya membaca bab pembacaan naskah oleh Nitani Mirei. Saya ragu-ragu dan mulai berpikir kalau pembunuhnya bukan Sayuri, melainkan Koga Sonoko. Namun, lagi-lagi teori akan tebakan saya dipatahkan kembali dan begitu seterusnya sampai  saya merasa pusing memikirkan siapa sebenarnya pelaku pembunuhan tersebut.

Penulis benar-benar mampu mengombang-ambingkan pemikiran pembaca akan pembunuh yang sebenarnya. Benar-benar sempurna. Dalam cerita pendek yang dibuat oleh para anggota Klub Sastra mereka terlihat saling menuduh. Alur dari cerita pendeknya juga berurutan. Para pembaca dibuat kesulitan untuk menebak siapa pembunuh yang sebenarnya.

Ada perbedaan yang begitu menonjol dari cara penulisan cerita pendek di antara sesama anggota. Cara penulisan Takaoka Shiyo berbeda dengan yang lainnya. Penggunaan bahasanya lebih ringan. Sementara yang lain saya rasa sama saja, sehingga saya kurang begitu memahami perbedaan sifat/karakter tokoh-tokoh lainnya.

Dan untuk endingnya, benar-benar membuat saya terkejut.
“Yang bisa menjadikan seorang tokoh utama menjadi tokoh utama adalah…peran pembantu. Bukan peran pembantu yang sembarangan, tapi peran pembantu yang tahu posisinya akan membuat pesona tokoh utama menonjol. Selain itu, dia tidak akan berusaha menjadi lebih menonjol daripada tokoh utama.” (hal.226)

Saya tidak menyangka kalau sebenarnya kematian Itsumi hanyalah rekayasa pembalasan dendamnya untuk kelima orang anggota Klub Sastra. Sampai Sumikawa Sayuri-lah yang benar-benar membunuh Itsumi dan menjadikan dirinya sebagai tokoh utama.

Untuk kekurangannya, saya rasa hampir tidak ada cacat. Saya tidak menemukan kekurangan yang begitu menonjol. Terjemahannya juga bagus. Alurnya sedikit membingungkan namun menarik. Overall, novel ini sangat bagus + cocok untuk menemani para pembaca di akhir pekan *Yeyy \(^-^)/

Beberapa quotes yang saya sukai dari novel ini diantaranya :
1.       “Cobalah untuk beraktivitas seperti biasanya dengan merenggut sebuah benda yang selalu ada, bernama cahaya. Kau akan bisa merasakan cita rasa baru dari aktivitas yang biasa itu.” (hal.10)
2.       “Dua orang yang mirip kalau tidak saling mendukung, pasti saling berlawanan. Lalu, dua orang yang bertolak belakang kalau tidak saling mendukung, pasti saling berlawanan. Tidak ada yang terletak di antaranya.” (hal.16)
3.       “Kalau kau benar-benar ingin membalas budi, jangan padaku. Tapi lakukan pada orang-orang yang tidak beruntung.” (hal.49)
4.       Refreshing dengan cara mengunjungi rumah sakit mungkin terdengar aneh, tetapi bukankah seorang gadis yang masuk Jurusan IPA memang sudah aneh ?” (hal.148)
5.       “Kalau kesialan seseorang itu adalah madu yang manis, rahasia seseorang itu adalah rempah-rempah berkualitas tinggi. Rahasia akan menjadikan kehidupan orang yang mengetahuinya menjadi harum dan memberikan rasa yang penuh akan cita rasa.” (hal.227)
6.       Kalau kau ingin menggerakkan orang sesuai dengan kehendakmu, genggamlah rahasianya….” (hal.237)

0 komentar:

Posting Komentar